Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali menahan BI Rate di 5,25% untuk bulan ketiga berturut-turut. Keputusan ini sesuai konsensus, tetapi nada pernyataan Gubernur BI lebih berhati-hati dari yang diperkirakan pasar. Kata "stabilitas" disebut sebelas kali dalam siaran pers — dua kali lebih sering dibanding rapat sebelumnya.
Mengapa BI menahan diri
Inflasi umum berada di 2,1% secara tahunan, jauh di dalam kisaran sasaran 1,5–3,5%. Secara teori, ini memberi ruang bagi penurunan suku bunga. Namun BI melihat tiga risiko yang belum reda: ketidakpastian arah kebijakan The Fed, harga minyak yang kembali di atas USD 78 per barel, dan aliran modal portofolio yang mudah berbalik.
“Kami tidak akan menukar stabilitas yang susah payah kami jaga dengan pertumbuhan jangka pendek,” kata Gubernur BI.
Bagi pasar obligasi, pesan ini berarti yield SUN 10 tahun kemungkinan bertahan di kisaran 6,5–6,8% hingga akhir kuartal. Bagi perbankan, tekanan pada margin bunga bersih belum akan mereda dari sisi biaya dana.
Apa yang berubah dibanding rapat Juli
- Proyeksi pertumbuhan ekonomi dipertahankan di 4,9–5,1%, tetapi BI menambahkan catatan tentang perlambatan konsumsi kelas menengah.
- BI mempertegas instrumen SRBI sebagai alat menarik portofolio asing.
- Intervensi di pasar NDF domestik disebut secara eksplisit sebagai strategi utama.
Dampak ke sektor
Sektor properti dan otomotif — yang paling sensitif terhadap suku bunga — kehilangan katalis jangka pendek. Sebaliknya, bank dengan porsi dana murah tinggi tetap diuntungkan karena bunga kredit bertahan.
Skenario dasar kami: BI baru akan memangkas 25 basis poin pada kuartal keempat, itu pun bila The Fed sudah memulai siklus penurunannya dan rupiah stabil di bawah 16.000 per dolar AS.