Kebijakan hilirisasi nikel kerap dirayakan sebagai kisah sukses. Nilai ekspor produk nikel memang melonjak dari USD 3 miliar menjadi lebih dari USD 30 miliar. Tetapi ada pertanyaan yang jarang diajukan: ke mana produk itu pergi?

Jawabannya: hampir seluruhnya ke Tiongkok, dalam bentuk feronikel dan matte. Kita berhenti mengekspor bijih, lalu mengekspor produk setengah jadi. Nilai tambahnya nyata, tetapi ketergantungan pasarnya tidak berubah.

Hilirisasi generasi kedua

Langkah berikutnya bukan larangan baru, melainkan menciptakan permintaan domestik: pabrik baja nirkarat, prekursor baterai, hingga perakitan sel. Ini membutuhkan tiga hal yang kebijakan larangan tidak bisa berikan — listrik bersih yang murah, kepastian hukum untuk investor non-Tiongkok, dan tenaga kerja terampil.

Larangan ekspor itu tongkat. Hilirisasi yang sesungguhnya membutuhkan wortel.

Jika tidak, dalam sepuluh tahun kita akan memiliki puluhan smelter yang menganggur ketika Tiongkok menemukan sumber nikel lain — dan itu sudah mulai terjadi di Filipina dan Afrika.